DAMASKUS - Kementerian Luar Negeri Suriah menyambut
tawaran dari Rusia yang ingin menggantikan posisi Austria di Dataran
Tinggi Golan. Namun Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) keberatan akan
inisatif tersebut.
Pada dasarnya, PBB cukup mengapresiasi sikap Negeri Beruang Merah
mengenai hal ini. Meski demikian, mereka mengingatkan kembali dengan
Perjanjian Pelepasan dan protokol yang disepakati Israel dan Suriah
terkait gencatan senjata di Golan.
Saat perjanjian itu disepakati, kedua pihak tersebut menentang campur
tangan pasukan dari negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB dalam misi
perdamaian untuk pemantauan gencatan senjata. Kehadiran pasukan Rusia
di Suriah turut dipandang bermotif politik, pasalnya, Rusia adalah
salah satu negara yang mendukung Pemerintah Suriah.
"Kami mengapresiasi saran yang diberikan Federasi Rusia mengenai
pengiriman pasukan ke Golan. Namun Perjanjian Pelepasan dan protokol
yang disepakati Suriah dan Israel tidak akan mengizinkan negara anggota
tetap DK PBB berpartisipasi dalam UNDOF," ujar juru bicara PBB Martin
Nesirky, seperti dikutip
Reuters, Sabtu (8/6/2013).
Seperti diketahui, keputusan penarikan 377 pasukan Austria disebabkan
karena konflik domestik Suriah yang sudah mengalami eskalasi. Fraksi
oposisi Suriah seringkali menerobos perbatasan di dekat Golan dan
berseteru dengan pasukan Presiden Bashar al-Assad.
Kanselir Austria Werner Faymann dan Menteri Luar Negeri Michael
Spindelegger mengatakan bahwa kedua fraksi itu berkelahi untuk merebut
kendali wilayah perbatasan. Keputusan penarikan pasukan Austria di
Golan turut disesali oleh PBB. Dan saat ini, PBB pun menawarkan
beberapa negara untuk menambah jumlah pasukannya di wilayah itu.
Tidak ada komentar: